Home » » Resensi Novel "Hakikat"

Resensi Novel "Hakikat"

Written By Unknown on Senin, 10 Maret 2014 | 04.54



“Hakekat”
sebuah novel religious

Hati-kati kalau pacaran jarak jauh. Laki-laki dimana-mana sama. Jangankan pacaran jarak jauh, jarak dekat saja dia sempat selingkuh, apalagi jarang ketemu,…. (M. Hamli Sa’ad, Hakekat, sebuah novel religious, Diva Press, 2009, hal. 67)

Sebaik apa pun kelakuan manusia, dia bukan nabi atau malaikat. (68) Dia pasti pernah berbuat salah, namun yang terbaik adalah menyesali kesalahan yang telah di perbuatnya dan tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang lalu. Dan itu semua tergantung masing-masing orangnya.

Yang penting adalah kudu eling lan waspada,(69).

Biarkanlah dia pergi selamanya bersama yang baru. Sebab tuhan tidak hanya menciptakan di dunia ini satu wanita, tapi masih banyak diluar sana  yang jauh lebih baik dari yang dulu. (75)

Diatas langit ternyata masih ada langit yang lain lagi, demikian dengan ilmu.
Itulah hidup. Perlu perjuangan. Kalau mau senang ya susah dulu, semuanya membutuhkan proses bukan hanya hasilnya saja. 89

Salat bukan mencari kekayaan, namun salat untuk mencari kedamaian batin yakni mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan kekayaan itu dicari dengan bekerja dan berusaha. Tentu jika usahanya sepenuh hati dapat di pastikan akan kaya. Jadi yang membuat kaya adalah bekerja.

Dan tujuan manusia hidup adalah untuk beribadah kepada tuhan dengan usaha sebagaia penunjangnya.

Pembicaraan mereka terhenti seketika seiring dengan berkumandangnya azan Zuhur. Ia memangil orang-orang beriman untuk bersujud di tengah-tengah kesibukannya bekerja atau mencari nafkah. Namun, kenytaannya hanya sedikit saja yang memenuhi pangilan tersebut. (176)

Cinta akan hadir dengan sendirinya, tanpa di duga sebelumnya,…. Cinta itu fitrah, juga karunia. (178)

Sawang-sinawang itu saling melihat atau saling menilai. Tadi kamu bilang enak jadi anak kecil yang hidup tanpa beban, engak punya problem, engak punya target hidup. Tapi, di mata anak kecil, ya enak jadi orang dewasa yang bisa pergi kemana-mana, boleh berbuat apa saja, punya ini dan itu, dll. (181)

Daripada melihat dan menilai rumput tetangga yang Nampak lebih hijau, lebih baik perhatikanlah rumput kita sendiri. Kalau tampak kecolatan karena kekeringan, ya sering-sering disirami. Kalau sabat ya di tebasi. (182)

Hakekat cinta? Cinta? Siapapun pernah mengalaminya. Tak peduli apakah seseorang itu ustadz atau bukan, kaya atau miskin, raja atau rakyat jelata. Pokoknya, setiap manusia akan mengalaminya. Banyak yang mengatakan, jatuh cinta tak terkira rasanya. Bahagia jika cinta bersambut. Sebaliknya, akan menderita jika tawaran cintanya tak mendapat balasan. Luka di hati pun akan terpatri begitu dalam, seakan tak terobati. Apalagi, jika kemudian cinta itu putus di tengah jalan. Tentu luka yang lara akan terkenag sepanjang mas. (212-213)

Hakekat cinta yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai agama, mengakat harkat martabat kemanusiaan, dan mengedepankan akhlak terpuji, entak kenapa kini sering kali ternoda oleh nafsu berlumur dosa. Akhirnya, cinta dan nafsu pun berjalan seiring, tanpa ada pembatas. (213)

Cinta memang tidak harus memiliki. Betapapun cinta begitu dalam jika belom jodoh bagaimana pun caranya belum tentu bersatu.

Selesai baca, 11.00. Banjarmasin, 3/8/2014.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar