Home » » Kapuhunan”, Kepercayaan Dinamisme Dalam Masyarakat Etnis Banjar

Kapuhunan”, Kepercayaan Dinamisme Dalam Masyarakat Etnis Banjar

Written By Unknown on Jumat, 14 Maret 2014 | 03.29



“Kapuhunan”, Kepercayaan Dinamisme Dalam Masyarakat Etnis Banjar"


Mungkin dalam benak anda agak bertanya-tanya, Apa sih “Kepohonan” ? Dalam masyarakat Kalimantan tentu kata-kata itu tidaklah asing ditelinga. MUngkin bagi mereka ada yang malah merinding mendengarnya. Dalam bahasa Banjar, sebenarnya tidak ada kata “Kepohonan” tetapi yang ada adalah “Kapuhunan”. Huruf “e”=”a”, huruf “O”=”u”. Yah, itulah pelafalan huruf dalam bahasa Banjar yang mendominasi bahasa di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, Tengah dan sebagaian Kalimantan Timur. Namun nama ini juga memiliki nama “kemarawaan”.

Dulu ketika saya masih kecil, saya sering di beritahu oleh kawan-kawan saya, kalau ada orang yang menawari makan maka jangan pergi dulu, nanti kena kecelakaan atau musibah dan ini sering di sebut dengan “kepuhunan”.

Begitu pun jika kita bertamu ke tempat orang lain, kebetulan di rumah itu sedang makan, dan kita ditawari namun menolak, biasanya kita disuruh mencicipi agar tidak “kapuhunan” walaupun tidak makan banyak.

Istilah “kapuhunan” yang merujuk kepada pohon ini, merupakan kepercayaan turun temurun yang masih dipegang hingga kini oleh sebagian masyarakat dalam budaya di berbagai etnis, khususnya dengan orang banjar. Kapuhunan, diperkirakan berasal dari kepercayaan dinamisme, disebut juga dengan nama preanimisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai daya dan kekuatan.

Meski etnis Banjar mayoritas memeluk agama Islam, kepercayaan terhadap “kapuhunan” atau kepohonan ini masih belum hilang. Dulu semasa masih anak-anak, di kampung saya sering melihat ada orang yang menaruh semacam sesaji dibawah pohon besar, atau sesaji ditempatkan di sejenis nampan terbuat dari rotan atau pandan, digantung di dahan pohon. Dan orang-orang yang melewati pohon besar itu pun selalu permisi dengan berkata, “datu, umpat lalu lah anak cucu”, artinya; “datuk, anak cucu permisi lewat.”
“Kapuhunan” merupakan suatu kejadian yang terjadi ketika seseorang  dalam tubuhnya dirasuki atau dimasuki atau diganggu oleh makhluk halus penunggu pohon tertentu sehingga menyebabkan orang tersebut bertingkah laku tidak sewajarnya. Sementara “Kapuhunan” itu sendiri terjadi bukan dengan kehendak orang tersebut atau dengan dibuat-buat, melainkan terjadi dengan unsur ketidak sengajaan dan andaikan orang yang bersangkutan boleh memilih, maka tentu akan jatuh pilihan tersebut pada kata Tidak !!!
Dulu Kalimantan terkenal dengan hutannya, secara otomatis banyak sekali pohon-pohon besar yang tumbuh dan berkembang. Nah, dari sekian banyak pohon tersebut ada berbagai jenis pohon tertentu yang diyakini dihuni oleh bangsa makhluk halus, terutama pohon yang besar, rindang sehingga terlihat agak angker. Namun sekarang keeadaan tersebut sepertinya sudah agak bertolak-belakang karena sudah banyak pohon-pohon yang besar ditebangi untuk keperluan tertentu, sehingga yang tertinggal sekarang adalah sebagian besar pohon-pohon yang kecil saja. Tetapi walaupun demikian, “Kapuhunan” tidaklah ikut terkikis, hilang seiring dengan habisnya pohon-pohon besar yang ditebangi. “Kapuhunan” tetap diyakini sebagai suatu gejala yang timbul dari alam sebelah, dan hal itu masih eksis sampai sekarang. Apalagi hal itu diperkuat oleh pernyataan “orang pintar” yang dikenal dalam bahasa Banjar dengan sebutan “Pananamba” atau Paranormal ketika mengobati pasiennya sang Paranormal mengatakan paling mudah untuk difahami masyarakat adalah sakit karena “Kapuhunan”. Susah juga untuk tidak mempercayainya, karena dalam prakteknya banyak masyarakat yang sangat awam pengetahuannnya tentang alam sebelah . Bahkan dalam faktanya keganjialn -keganjilan yang terjadi pada pasien ketika diobati Paranormal akan segera sembuh. Namun mungkin “Kapuhunan” dalam hal ini menurut saya, dalam dimensi waktu telah mengalami pergeseran, perkembangan  makna.
Perkembangan makna seiring dengan tingkat kehidupan dewasa ini. Contoh konkrit apa yang saya katakan adalah ketika kita bertamu ke rumah tetangga, kerabat atau teman kita di Kalimantan ketika disuguhi minuman atau makanan. Maka ketika kita tidak memakan atau meminumnya, secara spontan akan keluar kata-kata “Nanti Kapuhunan”. Maksudnya adalah, kalau tidak dimakan nanti bisa kenapa-napa, bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Padahal kalau kita fikir-fikir, apa kaitannya ? Mungkin paling tidak kita disuruh menghargai orang yang sudah menyuguhi kita makanan dan minuman tersebut. Yah..tapi itulah keyakinan yang masih sampai sekarang dipegang oleh warga masyarakat Banjar dan sekitarnya secara khusus. Budaya !! Sudah Tradisi !!

by.Muh_Maskur89
Share this article :

1 komentar: